Teleskop ini akan mendeteksi asteroid-asteroid di sekitar Bumi.
 |
Ilustrasi: Teleskop terbesar di dunia
|
Go Klik-Info,Menyusul dampak dari meteor yang menghantam Rusia pada Jumat pekan lalu,
15 Februari 2013, muncul kekhawatiran tentang masa depan Bumi yang
terancam serangan batu luar angkasa berikutnya. Sebab, meteor dapat
meluncur ke Bumi tanpa bisa terdeteksi.
Oleh karena itu, peristiwa meteor di Rusia tersebut mengundang sejumlah proyek pendeteksian asteroid swasta di Amerika Serikat.
"Selama
akhir pekan, kami melihat lalu lintas Internet sekitar 1.000 kali lebih
besar dari biasanya, yang dikonversikan ke dalam donasi puluhan ribu
dolar dari seluruh dunia," kata Diane Murphy, juru bicara B612
Foundation dilansir
RIA Novosti, Kamis 21 Februari 2013.
B612
Foundation merupakan perusahaan nirlaba yang akan mengerjakan teleskop
ruang angkasa inframerah swasta untuk melacak asteroid yang berseliweran
di sekitar Bumi.
Beberapa minggu sebelum meteor Rusia menghantam
langit Ural, perhatian dunia terfokus pada asteroid setengah lapangan
sepakbola, 2012 DA14. Kebetulan asteroid ini juga mendekati Bumi pada
hari yang sama dengan meteor Rusia, yakni pada jarak 27.681 kilometer.
Asteroid 2012 DA14 sudah terdeteksi sejak tahun lalu oleh seorang
astronom amatir.
"Sedangkan, meteor di Rusia tidak ada yang
memprediksi sebelumnya, dan akhirnya menghantam wilayah Ural pada Jumat
silam," ujar Murphy.
"Saya yakin banyak orang yang terkejut
dengan kejadian tersebut, sekaligus membuat mereka sadar bahwa peristiwa
serupa bisa saja terjadi di lingkungan mereka, di mana tidak ada yang
melihatnya datang," tandasnya.
B612 bekerja sama dengan Badan
Antariksa Amerika Serikat (NASA) akan meluncurkan teleskop inframerah ke
dalam orbit Venus, yang bertugas untuk mencari asteroid yang belum
teridentifikasi.
Diharapkan asteroid bisa terdeteksi sekitar 20 sampai 50 tahun sebelum dampaknya terasa di Bumi.
"Sangat
banyak benda luar angkasa di luar sana yang perlu ditemukan sejak
dini," kata Rusty Schweickart, mantan astronot Apollo 9 sekaligus
pendiri B612, kepada RIA Novosti.
Cara ini akan memberikan sudut
pandang baru kepada para peneliti, yang memungkinkan mereka melihat Bumi
dengan posisi matahari ada di belakang mereka, berbeda dari teleskop
yang melihat langsung ke matahari dan membuat penemuan titik asteroid
lebih sulit.
"Dalam dua minggu pertama, setelah teleskop
diluncurkan, kami memastikan akan menemukan asteroid lebih banyak
dibanding yang jumlah terdeteksi selama ini," kata Murphy optimistis.
Prototipe
teleskop telah dirancang dan kini sedang memasuki uji coba. Proyek
senilai US$450 juta, atau setara Rp4,3 triliun, dijadwalkan rampung pada
2017.
Proyek ini hanyalah salah satu dari setidaknya setengah
lusin modal swasta untuk mendorong eksplorasi ruang angkasa dan
pelacakan asteroid.
"Meteorit Chelyabinsk menakutkan, beberapa
ratus orang terluka, tetapi kerusakan itu relatif kecil dibandingkan
dengan apa yang bisa terjadi dengan obyek yang sedikit lebih besar,"
kata John Tonry, peneliti utama untuk Asteroid Terrestrial-Impact Last
Alert System (ATLAS), sebuah organisasi University of Hawaii yang
mengembangkan serangkaian teleskop kecil untuk melacak benda-benda dekat
Bumi.
Diakuinya, proyek ATLAS tersebut tidak akan mampu
membelokkan asteroid yang mendekat ke Bumi. Tapi, dengan bantuan hibah
US$5 juta, Rp48,4 miliar dari NASA, proyek tersebut dimaksudkan untuk
memberikan sistem peringatan dini di masa akan datang.
Sistem
peringatan dini ini diharapkan akan beroperasi penuh pada akhir 2015.
"Benda seperti meteor bisa membunuh ribuan orang dan menghancurkan
kota," tutur Tonry, dalam sebuah pernyataan di situs ATLAS.
Share :